Cinta Agama dan Cinta Negara, Mana yang Utama?


Rasa nasionalisme ternyata lebih penting untuk mempersatukan negara ketimbang agama (maaf agak ekstrem). Agama hanya modal sesorang untuk berperilaku baik dan bersifat sangat individu atau personal. Agama tidak bisa dipaksa atau memaksa. Jika itu terjadi maka akan ada rasa curiga dan gesekan-gesekan antar umat beragama.

Nasionalisme akan mendorong seseorang melakukan tindakan nyata untuk berbuat baik terhadap banyak orang. Dengan landasan agama seseorang juga akan mantap dalam mewujudkan rasa Nasionalisme. Di negara yang kerap terjadi gesekan-gesekan atas nama agama perlu membangkitkan rasa nasionalisme. Tepatnya, ditanamkan melalui lembaga-lembaga pendidikan terutama anak usia dini dan remaja.
Negara kita pernah memiliki pengalaman dengan Nasionalisme. Saat perjuangan semua golongan, agama, tua muda ikut berjuang melawan penjajahan. Ketika bangsa dalam kondisi menderita tersakiti akibat penjajahan maka rasa Nasionalisme tumbuh dengan cepat.
Bahkan perjuangan juga digerakan oleh pemuka-pemuka agama seperti, KH. Ahmad Dahlan, Mgr. Soegijapranata. Mereka berjuang tidak mengatasnamakan agama tapi negara. Tidak benar jika generasi sekarang tidak memelihara rasa Nasionalisme tapi memihara rasa pertentangan atas nama agama.
Nah untuk menunjukkan pengalaman Nasionalisme sineas Garin Nugroho membuat film tentang Mgr. Soegijapranata (pemimpin agama Katolik Indonesia pertama dari pribumi) yang berjuang menentang penjajahan Belanda dan Jepang. Dia berjuang dengan tidak mengatasnamakan agama tapi pure rasa kemanusian dan kebangsaan. Jadi pengen segera nonton nih.. Trus Garin buat film lagi tentang Kapten Lukas Kustario orang yang dicari-cari Belanda akibatnya terjadi pembatain di Rawagede.

0 komentar:

Post a Comment