Sebuah Refleksi di Hari Guru

(he..he, lagi di supervisi kepala sekolah)
Sudah hampir 9 tahun aku mengajar, begitu banyak pengalaman dari mengajar sekolah yang biasa-biasa sampai di sekolah favorit. Tepat di hari guru sebuah uneg-uneg yang ingin ku munculkan ketika melihat tayangan di televisi TV ONe kemarin sore. Sebuah dialog yang membahas tentang keputusan Makamah Agung yang memberhentikan Ujian Nasional. Sebuah keputusan yang cukup fenomenal karena Ujian Nasional selalu menyisakan banyak permasalahan. Dari tahun ke tahun selalu ada yang tidak lulus sehingga sekolah melakukan apapun untuk membuat siswanya lulus 100%. Lihat saja jika Ujian Nasional selesai pasti banyak ditemukan kecurangan-kecurangan sekolah. Ironis sekali bagi negara yang sedang berkembang. Pemerintah menginginkan dengan adanya Ujian Nasional seluruh wilayah dapat memiliki nilai standar Nasional dengan kreteria kelulusan yang selalu naik. Tapi yang menjadi pertanyaan apakah pembangunan di bidang pendidikan sudah menyentuh seluruh wilayah Indonesia? Toh pada kenyataanya pembangunan pendidikan hanya menyentuh kota-kota besar atau sekolah-sekolah favorit saja. Apakah Ujian Tertulis merupakan satu-satunya tolok ukur keberhasilan siswa? Apakah pembuat naskah ujian nasional juga tahu kondisi riil seluruh pendidikan secara Nasional? Masih banyak yang perlu dipertanyakan. Namun dengan keputusan Makamah Agung menjadi angin segar bagi pendidikan kita. Dan akan lebih baik lagi jika pembangunan pendidikan merata di semua wilayah, entah perbaikan mutu guru, kesejahteraan guru, pembangunan fasilitas belajar mengajar, beasiswa yang lebih banyak lagi dan sebagainya. Jangan sampai putra-putri terbaik Negara memberikan ide-ide cemerlangnya untuk Negara lain karena di Negara ini mereka tidak terperhatikan pendidikannya.

1 komentar: