Hari Guru 2012


Ini kali ketiga aku menulis tentang hari guru. Apa makna yang dapat kita ambil untuk memajukan pendidikan di negara ini. Peringatan hari guru dirayakan saat gonjang-ganjing perubahan kurikulum mulai santer terdengar di media. Seperti yang diberitakan di Kompas.com, menteri pendidikan mengisyaratan bahwa tahun pelajaran 2013-2014 kurikulum akan berubah. Tepatnya adalah mengurangi beberapa mata pelajaran di tingkat Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Atas. Namun jam mata pelajaran tidak akan berkurang tapi malah bertambah.
Rencana perubahan itu memantik reaksi dan komentar dari para pengamat pendidikan maupun dari guru langsung. Ada yang mengatakan bahwa setiap ganti menteri pasti kurikulum akan diganti. Sedangkan dari guru adalah mempertanyakan nasib mereka jika mata pelajaran yang diampunya dihapuskan, "apakah mereka masih dapat bekerja atau ikut menjadi tumbal pengurangan tenaga guru".
Awal rencana perubahan kurikulum ini dipicu oleh peristiwa kekerasan yang dilakukan siswa di ibukota dan beberapa kota besar lain hingga menimbulkan kematian. Perilaku siswa tersebut menimbulkan reaksi dari masyarakat peduli pendidikan dan dari pemerintah. Mereka beranggaoan bahwa pendidikan telah gagal mencetak siswa yang berkarakter baik. Perilaku 'barbar' para siswa tersebut tak lepas dari kurang pengawasan sekolah dan orang tua. Banyak sekolah akan "sungkan" jika orangtua siswa adalah penjabat, anak aparat, anak pengusaha. Sekolah seakan tak berkutik. Pendidikan budi pekerti/pendidikan agamapun seakan-akan mubazir.
Nah, apakah perubahan kurikulum mampu mengatasi problematika diatas atau masih tetap saja ataukan malah menimbulkan problem baru??
Nun jauh di sana, di pelosok, di daerah-daerah masih banyak sekolah yang sukses mengantar anak didiknya menjadi pribadi yang unggul. Mari kita belajar dari sekolah-sekolah tersebut. Jangan melulu mengejar angka-angka nilai saja. Lihat, ujian nasional saja banyak sekolah dan institusi terkait melakukan kecurangan-kecurangan.
"Berubah tidak hanya kurikulumnya saja tapi para pengambil kebijakan/para petinggi pendidikan mulai berani jujur dalam berperilaku dalam dunia pendidikan. Jangan pernah mengambil keuntungan diri sendiri di pendidikan. Karena siswa butuh teladan... Semoga...

2 komentar:

  1. sukses terus, Pak,,
    wah, saya gak dapet gelasnya taun ini hahaha,,

    ReplyDelete
  2. Makaci buk... K skul aja buk... ntar dikasi gelas hehe

    ReplyDelete